Metode tafsir merupakan cara kerja ilmiah dalam mempelajari kata-kata dalam al-Qur’an dan akan tetap relevan untuk digunakan dari waktu ke waktu. Sementara itu, juga memiliki komponen internal yang kokoh sebagai metode penelitian terhadap kata-kata dalam al-Qur’an. Oleh karena itu, pengetahuan mendalam tentang metode interpretasi yang digunakan oleh mufassirin dalam interpretasi tersusunnya harus diketahui. Baru setelah itu metode tersebut dapat dirumuskan dan digunakan dalam ruang lingkup yang lebih luas khususnya di bidang penelitian.

Pengertian Metode Tafsir

1. Pengertian Tafsir Secara Etimologi

Metode tafsir merupakan gabungan dari dua kata yaitu ‘metode’ dan ‘tafsir’. Metode adalah tata cara atau seperangkat aturan dalam melakukan sesuatu menurut hukum dan prinsip khususnya (Kamus Dewan, 2013: 224). Secara khusus, Qawa’id (metode) secara bahasa berarti asal mula dan pondasi yang dibangun di atas sesuatu. Artinya, setiap metode adalah dasar dan asal mula sesuatu yang berada di bawahnya, baik dapat dilihat secara fisik atau tidak. Sebagai contoh, sebuah rumah dibangun di atas pondasi (al-Sabt, 2000: 22). Selain itu, al-Khalidy (2006: 18) mendefinisikan metode sebagai al-thariqah (cara).

Secara etimologis, para ahli bahasa Arab memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menentukan akar kata dari kata tafsir (al-Rumiy, 1995: 2). Beberapa dari mereka sepakat bahwa kata tersebut berasal dari kata kerja fasara yang kemudian diakumulasikan menjadi fassara. Kata fasara dari pengertian bahasa memiliki banyak arti, diantaranya adalah al-idah (memperjelas), al-tabyin (menjelaskan), al-ibanah (mencerahkan), al-kasyf (membukakan) dan al-izhar ( menentukan) (al-Dhahabiy, 1992: 15; al-Qattan, 1993: 323; al-Akk, 1994: 30).

Sementara itu, ulama bahasa Arab lainnya berpendapat bahwa kata tafsir berasal dari kata kerja safara (al-Suyutiy, 1988: 167). Menurut al-Asfahaniy (tt: 350), baik al-fasara maupun al-safara adalah dua kata berbeda yang hampir memiliki arti dan pengucapan yang hampir sama. Keduanya dapat didefinisikan sebagai klarifikasi, penyingkapan, penjelasan dan pencerahan. Meskipun demikian, kata fasara biasanya digunakan dibandingkan dengan kata safara.

2. Pengertian Metode Tafsir Secara Istilah

Kesimpulannya, berdasarkan pada pendapat dan definisi yang dikemukakan di atas, jelaslah bahwa ilmu tafsir merupakan ilmu yang bersifat teknis dan praktis serta memiliki satu tujuan yaitu memahami kata-kata dalam al-Qur’an melalui hati nurani. Ditambah lagi ruang lingkup penafsirannya luas karena terdiri dari banyak isi dari al-Qur’an seperti i’rab, qiraat, nasikh dan mansukh, alasan wahyu, struktur kata dan masih banyak lagi yang juga diklasifikasikan sebagai tafsir.

Kombinasi kata ‘metode’ dan ‘tafsir’, ‘Metode Tafsir’ menurut al-Sabt (2000: 30) dan al-Khalidiy (2010: 209) merupakan hukum-hukum secara keseluruhan yang mampu mengungkap makna kata-kata dalam al-Qur’an juga menentukan tata cara mengeksplorasi nilai-nilai darinya. Dengan demikian, metode tafsir merupakan ilmu yang menempatkan hukum dalam tata cara tertentu dalam menafsirkan kata-kata dalam al-Qur’an. Setiap proses dalam rangka pengungkapan makna kata-kata dalam al-Qur’an dikategorikan sebagai metode tafsir.

Metode tafsir adalah sesuatu yang berbeda dengan al-Qur’an. Al-Qur’an dijamin kebenarannya yang mutlak, tapi bagaimanapun cara penafsirannya bersifat relatif. Hal ini dikarenakan, pembentukan metode tafsir itu sendiri berbeda antara satu dengan yang lain tergantung dari ahli tafsir yang menyesuaikan subjek dengan latar belakang sosio kulturalnya, kognisi serta bidang studinya.

Macam-Macam Metode Tafsir

Metode tafsir Al-Qur’an sudah ada sejak lama bersamaan dengan turunnya wahyu al-Qur’an kepada Nabi Muhammad (SAW). Awalnya, metode itu adalah pembenaran Nabi Muhammad (SAW) kepada para sahabatnya (Sahabat) r.a. tentang kata-kata yang disebutkan dalam al-Qur’an. Metodenya dapat dilihat ketika Nabi Muhammad (SAW) menjelaskan kepada para sahabatnya (Sahabat) r.a. tentang makna kata-kata dalam al-Qur’an (al-Qattan, 1993: 20).

Praktik Penafsiran Pada Masa Rasulullah

Kebingungan para Sahabat (Sahabat) r.a. Dalam memahami kata-kata dalam al-Qur’an dan pembenaran Nabi Muhammad (SAW) mengenai kata-kata tersebut dapat dilihat dengan jelas dari hadits. Salah satunya adalah ketika Nabi Muhammad (SAW) menafsirkan kata-kata dalam al-Qur’an dengan kata-kata lain yang terkait dalam Al-Quran. Misalnya, dia menjelaskan tentang arti ungkapan ‘zulm’ yang disebutkan dalam kata-kata ini:

Dia menggambarkan frase ‘zulm’ di atas berarti takhayul dan penetapan “sekutu” ditempatkan di samping Allah SWT dan menghubungkannya berdasarkan kata lain yang disebutkan dalam al-Qur’an:

Contoh lain selain tafsir dari kata-kata yang disebutkan dalam al-Qur’an adalah ucapan Nabi Muhammad (SAW) seperti penjelasannya tentang frasa ‘al-Wusta (al-Baqarah, 2: 238)’, ‘Quwwah ( al-Anfal, 8:60) ‘,’ Kalimah al-Taqwa (al-Fath, 48:26) ‘dan’ al-Kautsar (al-Kautsar, 108: 1) ‘. Nabi Muhammad (SAW) menjelaskan bahwa arti dari kalimat di atas adalah ‘al-Wusta’ berarti sholat Ashar, ‘Quwwah’ berarti memanah, ‘Kalimah al-Taqwa’ berarti La Ilaha Illallah; dan ‘al-Kautsar’ berarti sungai yang diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad (SAW) di surga (Mat Saad Abdul Rahman, 1982: 30).

Kesimpulan

Singkatnya, sejak masa Nabi Muhammad (SAW) penafsiran al-Quran sudah terjadi bahkan ketika wahyu diturunkan secara bertahap. Metode tafsir yang digunakan Nabi Muhammad (SAW) berupa penjelasan kata-kata yang disebutkan dalam al-Qur’an melalui metode tafsir al-Quran dengan al-Qur’an atau pendekatan lain seperti ucapan, tindakan dan klarifikasi oleh Nabi Muhammad. (SAW) (hadits) sebagai dasar tafsir al-Qur’an selama itu (al-Qattan, 1993: 334-335). Sedangkan pada masa Sahabat r.a. dan pada zaman Tabi’in, tidak ada metode khusus yang digunakan dalam penafsiran al-Qur’an kecuali yang menyentuh sumber-sumber tafsir yang diperluas ke penalaran independen mereka dan informasi yang diterima dari Ahli Kitab (‘Ahl al- Kitāb) (al-Qattan, 1993: 336-337).

Metode tafsir yang digunakan pada masa Sahabat (Sahabat) r.a. dan Tabi’in terus digunakan sampai abad ke-3 Hijriyah. Pada masa itu, metode tafsir dapat dipahami dengan munculnya kitab-kitab tafsir lengkap yang ditulis oleh para mufassirun mulai dari Tafsir al-Tabariy al-Musamma Jami ‘al-Bayan fi al-Tak’wil al-Qur’an yang ditulis oleh Abi Ja’far Muhammad bin Jarir al-Tabariy, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim oleh al-Hafiz Abi al-Fida ‘Ismail Ibn Kathir, al-Tafsir al-Kabir aw Mafatih al-Ghayb oleh Fakhr al-Din al -Raziy dan banyak lagi (Mohd Shukri Hanapi, 2013: 10).

Secara umum ada tujuh metode tafsir al-Qur’an yang digunakan para mufassirin dalam menafsirkan al-Qur’an. Ketujuh metode tersebut diklasifikasi menjadi dua kategori, yaitu:

1. Metode Penafsiran Pada Masa Lampau

Metode tafsir di masa lampau merupakan metode tafsir yang ada sejak peninggalan Nabi Muhammad (SAW) hingga abad ke-3 Hijrah (Hijriyah). Metode interpretasi yang ada pada masa itu disebut juga dengan pendekatan interpretasi. Pendekatannya adalah tafsir bi al-ma’thur, tafsir bi al-ra’yi dan tafsir al-isyariy. Penjelasan dari masing-masing pendekatan interpretasi adalah sebagai berikut;

Pendekatan Tafsir Bi Al-Ma’thur

Pendekatan tafsir bi al-ma’thur adalah menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an, al-Sunnah dan ucapan para sahabat (sahabat) dari segala aspek berupa penjelasan dan klarifikasi perintah Allah SWT. dari kata-kata suci yang disebutkan dalam al-Qur’an (al-Dhahabiy, 2000: 112). Pendekatan ini adalah cara terbaik dalam menafsirkan al-Qur’an. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat empat model dalam tafsir bi al-Ma’thur yaitu:

  • Tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an
  • Tafsir al-Qur’an dengan hadis Nabi Muhammad. (SAW),
  • Tafsir al-Qur’an beserta pendapat yang diberikan oleh para sahabat (Sahabat) ra dan terakhir,
  • Tafsir al-Qur’an dengan pendapat yang disepakati oleh para sahabat, sesama Tabi’in r.a.

Tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an adalah paling utama karena Allah SWT adalah Yang Maha Tinggi dalam menyampaikan pesan-Nya di dalam al-Qur’an dan Allah SWT adalah al-Hakim Yang Maha Tahu, Maha Bijaksana.

Oleh karena itu, mereka yang bermaksud untuk menafsirkan al-Qur’an harus mengacu pada Al-Qur’an itu sendiri dari langkah awal, dengan mengumpulkan apa saja yang diulang-ulang pada topik yang sama dan kemudian membandingkan setengahnya dengan bagian yang lain. Hal ini karena ada beberapa kata yang disebutkan secara singkat dalam kata-kata tertentu, yang kemudian disebutkan kembali secara rinci dengan kata lain, dan apa pun yang tidak dijelaskan secara jelas akan diperjelas di tempat lain dalam al-Quran  (al-Qardawiy, 2001: 46).

Meskipun demikian, tidak semua tafsir atas kata-kata yang disebutkan dalam al-Qur’an dapat ditemukan dari empat sumber yang disebutkan sebelumnya. Oleh karena itu, pendekatan tafsir bi al-ra’yi menjadi perlu dan relevan.

Pendekatan Tafsir bi al-ra’y

Pendekatan tafsir bi al-ra’y merupakan pendekatan kedua dalam penafsiran al-Qur’an yang berarti menafsirkan al-Qur’an dengan penalaran independen (ijtihad) 2 setelah penafsir mengetahui frasa bahasa Arab dan gaya bahasanya juga mendalami pengucapan dan artinya. Selain itu, ulama tafsir harus mengetahui alasan dibalik setiap wahyu kata, nasikh dan mansukh dari setiap kata dalam al-Qur’an ditambah hal-hal lain yang diperlukan dalam tafsir al-Qur’an (al-Dhahabiy, 2000: 183) .

Terlepas dari dua pendekatan tersebut di atas, ada juga pendekatan tafsir yang tidak hanya memusatkan makna dari kata-kata yang disebutkan dalam al-Qur’an secara jelas, tetapi juga mencakup makna tersirat dan isyarah. Pendekatan interpretasi ini dikenal dengan pendekatan tafsir al-isyariy

Pendekatan Tafsir al-Isyariy

Menurut al-Zarqaniy (1998: 386) dan al-Akk (1986: 205) pendekatan tafsir ini mengacu pada upaya yang dilakukan dalam menafsirkan kata-kata yang disebutkan dalam al-Qur’an tanpa bergantung pada pengucapan yang dapat dipahami dengan jelas. Sebaliknya, penafsiran didasarkan pada isyarah khafiyyah (isyarah khafiyyah) isyarat tersirat atau tanda-tanda tersembunyi yang dapat diselaraskan dan dikaitkan dengan tafsir secara komprehensif. Tafsir isyarah adalah mukjizat yang dianugerah kan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang memiliki hati yang suci dan dikenal baik oleh anggota tasawuf.

Ketiga pendekatan interpretasi yang disebutkan di atas inilah yang digunakan para mufassirin dalam karya interpretasinya.

Sederhananya, metode yang memberikan fokus khusus pada sejarah tafsir lain yang dapat diandalkan yang menggunakan hadits dan ucapan sesama  (Sahabat) r.a. dan Tabi’in r.a diistilahkan  dengan pendekatan tafsir bi al-ma’thur. Karya tafsir yang berusaha menuntun semua pemahaman dan nilai-nilai dalam kata-kata yang disebutkan dalam al-Qur’an melalui penalaran yang mandiri, kekuatan budi diistilahkan dengan pendekatan tafsir bi al-ra’yi.

Terakhir, karya tafsir yang membahas tentang uraian kata-kata dalam al-Qur’an secara jelas maupun tersirat baik dengan kata lugas maupun isyarat tersembunyi diistilahkan dengan pendekatan tafsir al-isyari.

Metode Penafsiran di Era Modern

Metode tafsir di era modern ini merupakan metode tafsir yang sudah ada sejak abad ke-3 hijrah (H) hingga saat ini. Cara-cara tersebut mulai digunakan tepat setelah kitab-kitab tafsir Al-Qur’an selesai sampai juz ke-30.

Secara keseluruhan, ada empat metode tafsir yang digunakan oleh penafsir dalam menafsirkan kata-kata yang disebutkan dalam al-Qur’an, yaitu:

Metode al-Ijmaliy (Umum)

Metode al-Ijmaliy merupakan metode tafsir yang menafsirkan kata-kata dalam al-Qur’an dengan mendemonstrasikan makna al-Qur’an secara sederhana dan dengan menggunakan bahasa lugas. Dengan menggunakan metode ini, para ulama tafsir melengkapinya dengan hanya menjelaskan seluruh makna dari kata-kata yang disebutkan dalam al-Qur’an (Abuddin Nata, 2007: 220; al-Rumiy 1998: 60; al-Khalidiy, 2012: 31 ).

Beberapa kitab tafsir yang ditulis dengan menggunakan metode ini adalah Tafsir al-Jalalain oleh al-Suyutiy dan al-Mahalliy, al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-‘Aziz oleh al-Wahidiy al-Naysabury dan Sofwat al-Bayan lima ‘ani al-Qur’an oleh Husin Makhluf (al- Khalidiy, 2012: 31)

Metode al-Tahliliy (Mendalam)

Metode al-Tahlili adalah metode interpretasi yang menjelaskan isi kata-kata dalam al-Qur’an dari seluruh aspek sesuai dengan susunan dalam al-Qur’an dari kata ke kata dan surat ke surat (Abuddin Nata, 2007: 219; al-Kiswaniy, 2011: 15). Selain itu, dalam uraiannya, penafsir akan memasukkan segala macam masalah, cerita atau kejadian apapun yang berkaitan dengan prinsip-prinsip Islam dan perspektif lainnya (al-Khalidiy, 2012: 31).

Keistimewaan tafsir yang didasarkan pada metode ini adalah pertama, pembaca akan merasa seolah-olah membaca seluruh makna dari kata-kata yang disebutkan dalam al-Qur’an. Selain itu, metode ini adalah metode yang digunakan oleh sebagian besar ahli tafsir. Seperti al-Tabariy, al-Khazin, al-Wahidiy, al-Baghawiy, al-Shawkaniy, Ibn Kathir dan Ibn ‘Atiyyah (al-Rumiy, 2007: 58).

Metode al-Muqaran (Perbandingan)

Metode al-Muqaran adalah metode tafsir yang menafsirkan kata-kata yang disebutkan dalam al-Qur’an dengan mengacu pada penjelasan dan perbedaan tafsir ulama yang berbeda dalam metodologi penerimaan, analisis dan penerapan ilmu (manhaj) interpretasi. Penafsirannya dibatasi pada satu surat atau hanya pada satu ruang lingkup saja seperti keimanan, fikih dan bahasa kemudian dibuat perbandingan antara itu. Perbandingan tidak dipahami dengan al-Qur’an secara keseluruhan tetapi pada surah tertentu atau topik tertentu.

Selanjutnya metode ini juga menyatakan keaslian metode yang digunakan oleh para ulama tafsir dan keluar dengan pendapat terkuat atau sebaliknya. (Abuddin Nata, 2007: 220; al-Khalidiy, 2012: 32).

Beberapa tafsir berdasarkan metode ini adalah Tafsir Jami ‘al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an oleh Imam Abi Ja’far Muhammad Ibn Jarir al-Tabariy yang dalam tafsirnya membandingkan pendapat ulama dan membenarkan tafsir lainnya. Pertama beliau memberikan argumennya atas setiap ayat. Kemudain, setuju dengan salah satu opini terkuat, juga melemahkan opini yang dianggapnya paling lemah (al-Rumiy, 2007: 62).

Selanjutnya metode ini juga menyatakan keaslian metode yang digunakan oleh para ulama tafsir dan keluar dengan pendapat terkuat atau sebaliknya. (Abuddin Nata, 2007: 220; al-Khalidiy, 2012: 32).

Beberapa tafsir berdasarkan metode ini adalah Tafsir Jami ‘al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an oleh Imam Abi Ja’far Muhammad Ibn Jarir al-Tabariy yang dalam tafsirnya membandingkan pendapat ulama dan membenarkan tafsir lainnya. Argumennya atas setiap opini, dan akhirnya setuju dengan salah satu opini terkuat, juga melemahkan opini yang dianggapnya paling lemah (al-Rumiy, 2007: 62).

Metode al-Mawdu’iy (Tema)

Metode al-Mawdu’iy merupakan metode penafsiran dengan mengumpulkan kata-kata yang disebutkan dalam al-Qur’an mengenai tema tertentu dan masalah yang sedang dipelajari. Kemudian disusun menurut urutan wahyu serta mengevaluasi alasan dibalik wahyu dan hubungan antara kata, topik dan surat dalam al-Qur’an.

Hasilnya, akan diinterpretasikan dan dianalisis menggunakan interpretasi dan pengetahuan lain yang mengandung teori-teori yang relevan dengan masalah yang diteliti. Metode ini dilakukan untuk menghasilkan konsep yang paling berani dari al-Qur’an tentang masalah yang dipelajari (al-Rumiy, 2000: 62; al-Khalidiy, 2012: 34). Menurut M. Quraish Shihab (1996) dan al-Khalidiy (2012), karena metode tafsir al-Mawdu’iy merupakan memusatkan perhatian pada kata-kata yang disebutkan dalam al-Quran yang memiliki tema dan topik yang sama, maka dikenal pula sebagai metode al-Tawhidiy yang artinya persatuan.

Beberapa kitab tafsir yang didasarkan pada metode ini adalah:

  • Qadaya al-‘Aqidah fi Du’i Surah Qaf oleh al-Kilaniy
  • Qadaya al-Mar’ah fi Surah al-Nisa ‘oleh Muhammad Yusuf
  • Surah al-Waqiah wa Manhajuha fi al-‘Aqa’id karya Mahmud Garib (al-Rumiy, 2007: 69).

Berdasarkan kedua kategori tersebut di atas, terdapat tujuh metode tafsir yaitu tafsir bi al-ma’thur, tafsir bi al-ra’yi, tafsir al-isyariy, al-tahliliy, al-ijmaliy, al-muqaran dan al-mawdu’iy. Semua metode ini digunakan oleh mufassirin dalam penafsiran mereka. Metode-metode ini akan dipilih sesuai dengan kesesuaiannya dengan pendekatan dan kecenderungan mufassirin yang diterapkan dalam penafsirannya.

Kesimpulannya, ketujuh metode tafsir tersebut memiliki pedoman dan cara kerja tersendiri dalam memahami kata-kata yang disebutkan dalam al-Qur’an. Hal tersebut juga diyakini dapat berkembang dan bermanfaat untuk digunakan saat ini khususnya dalam penelitian terkait keislaman. Oleh karena itu, aspek yang relevan dalam metode interpretasi yang akan diterapkan dalam penelitian umum harus dikaji terlebih dahulu.